Fakta Seputar Daging Sapi Impor di Indonesia

Fakta Seputar Daging Sapi Impor di Indonesia

Di Indonesia, daging sapi tidak hanya berasal dari peternak lokal, tetapi ada juga daging yang diimpor dari luar negeri. Mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa kita masih memerlukan daging sapi impor setiap tahunnya walaupun sudah memiliki sapi negeri sendiri yang sebenarnya juga tidak kalah lezat dan bernutrisi. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Hal ini dikarenakan bahwa usaha ternak sapi potong belum menjadi usaha utama para peternak atau tani. Selain tidak populer secara komersil, usaha sapi potong memerlukan waktu lama untuk pembibitan dan produksi, modal besar yang belum tentu kembali seluruhnya, dan resiko yang tinggi. Untuk menyiapkan seekor anak sapi menjadi sapi siap potong pun memerlukan kurang lebih 4 tahun, dan dalam proses ini sapi tersebut bisa saja terkena penyakit atau bahkan mati. Biaya yang dikeluarkan selama proses penggemukan dan lain-lain dapat mencapai 15 juta atau lebih. Faktor-faktor inilah yang masih mengakibatkan sedikitnya produksi sapi lokal. Dampaknya dirasakan pada saat hari-hari liburan nasional menjelang, seperti Idul Fitri atau Idul Adha. Harga daging sapi melonjak dan baik pembeli maupun penjual mengeluh dengan ini. Untuk menekan situasi ini, diimporlah daging sapi dari luar. Pemasukan ini dilakukan oleh pemerintah untuk menstabilkan harga daging dan memenuhi kebutuhan daging masyarakat. Daging sapi impor pada nyatanya dijual lebih murah di pasar, sehingga banyak yang beralih membeli daging ini. Kebanyakan pembelinya datang dari pedagang jajanan seperti soto atau bakso. Jika hal ini terus terjadi, daging sapi lokal bisa jadi kehilangan peminat. Padahal sebenarnya bila dibandingkan, daging sapi lokal terlihat mengungguli daging impor dari beberapa aspek.

Ada harga, ada kualitas. Walaupun harganya lebih mahal, daging sapi lokal yang segar menawarkan aroma yang khas daging sapi yaitu sedap dan gurih dengan warna merah darahnya. Karena daging sapi impor dibawa masuk ke Indonesia dalam bentuk beku, daging ini akan mengalami perubahan warna ketika esnya mencair dan dibiarkan untuk dipajang selama beberapa jam di kios penjualan. Daging sapi lokal juga tidak memiliki banyak lemak, sehingga daging ini cocok bagi Anda yang sedang mengurangi konsumsi lemak untuk saat ini.