Mengapa sapi impor tidak boleh untuk qurban?

Mengapa sapi impor tidak boleh untuk qurban?

Melihat kenaikan harga sapi lokal selama lima tahun terakhir ini cenderung naik rata-rata 15 persen tiap tahunnya, dan menurunnya populasi sapi lokal yang berdampak pada kenaikan harga sapi qurban, maka sebagai wacana alternatif sapi impor dijadikan sapi qurban.

Harga sapi impor memang cenderung lebih murah jika dibandingkan dengan harga sapi lokal, namun ada beberapa kendala yang perlu diketahui oleh masyarakat, antara lain: sapi impor tidak semuanya bisa dijadikan sapi qurban, salah satunya adalah jenis steer yaitu jenis sapi dari Australia yang sudah dikastrasi (kebiri). Sedangkan dalam persyaratan qurban sapi harus dalam kondisi tidak cacat alias tidak boleh dikastrasi.

Selain itu, sapi impor biasanya berukuran besar dan umurnya relatif muda, rata-rata satu tahun bobot badannya sudah 400 kg, sedang persyaratan qurban umur sapi harus sudah dewasa atau minimal dua tahun. Sedangkan jika dilihat dari kemampuan mayoritas penduduk Indonesia, banyak yang mencari bobot ringan agar sesuai dengan budjet untuk membeli sapu qurban tersebut. Kemudian, yang menjadi kendala adalah persyaratan pemotongan, sapi impor tidak bisa dipotong disembarang tempat, selain karena sapi impor tidak ada tali kalohan untuk menuntun sapi sampai di masjid, juga karena persyaratan dari negara asal sapi mensyaratkan pemotongan harus di rumah pemotongan hewan yang sudah di audit atau disertifikasi oleh Australia. Jadi Sapi impor tidak bisa dibawa dan dipotong di masjid tempat para jamaah melaksanakan pemotongan hewan qurban yang selama ini sudah berjalan.

Sapi impor bisa dijadikan sapi qurban dengan syarat antara lain; sapi harus jenis bull yang sudah cukup umur atau dua tahun lebih, tempat pemotongan hewan qurban di rumah pemotongan hewan yang sudah disertifikasi atau diaudit oleh principle dari Australia.

sumber: liputan6.com, sapibagus.com