Tips Memilih Sapi Qurban Sesuai Syariah

Tips Memilih Sapi Qurban Sesuai Syariah

Pada setiap bulan Dzulhijjah atau tepatnya lebaran Idul Adha disunnahkan bagi kaum muslimin yang mampu untuk memotong hewan qurban. Binatang ternak itu bisa berwujud unta, sapi, atau kambing. Bagi sebagian umat Islam yang lebih suka memilih sapi sebagai hewan qurban akan lebih utama daripada memotong satu kambing. Tips memilih sapi qurban perlu diketahui dengan baik agar benar-benar sesuai syariah.

Ada juga pendapat ulama yang menyebutkan memotong sapi sebagai hewan qurban dapat dipikul oleh 7 orang. Jadi disini daripada memotong seekor kambing untuk qurban, akan lebih baik memotong seekor sapi yang bisa ditanggung oleh 7 orang. Seekor kambing hanya dibebankan oleh satu orang muslim yang mampu. Sedang sapi bisa dipikul oleh satu orang saja atau 7 orang muslim yang mampu.

Lalu bagaimana sebaiknya memilih sapi qurban sesuai syariah? Sapi itu paling tidak telah berumur lebih dari 2 tahun, tidak boleh cacat, diperoleh dengan cara halal, diperoleh bukan dari hasil gadai seseorang, disembelih setelah shalat Idul Adha atau pada hari tasyrik. Di samping syarat tersebut masih ada beberapa hal yang perlu Anda ketahui sebelum dibeli yaitu perhatikan kondisi kesehatannya, ciri-ciri fisiknya dari mulai hidung, mulut, telinga, mata, dan anus. Apakah mengeluarkan cairan berupa darah atau lendir. Jika sudah dipastikan sehat, perhatikan pula apakah tempat jualannya di tempat yang bersih atau tidak, karena bisa mempengaruhi kesehatan dari hewan qurban. Selain itu coba tanyakan tentang sertifikasi atau label kesehatan yang diterbitkan oleh dinas peternakan setempat atau instansi terkait yang menangani kesehatan hewan.

Nah, setelah semua persyaratan itu dipenuhi Anda dapat memutuskan untuk membeli sapi qurban. Bagaimana bila harganya relatif mahal jika hanya dipikul oleh satu orang saja? Secara syariah Anda diperbolehkan untuk mengajak 6 orang lagi untuk memotong sapi sebagai hewan qurban. Nilai seekor sapi bisa dipikul oleh 7 orang Islam yang mampu didasarkan pada hadist Nabi yang diriwayatkan oleh Shahih Sunan Ibnu Majah.